Jumat, 20 Februari 2015





Sejarah Kabupaten Nias & Asal-Usul Orang Nias

 
1. Zaman Penjajahan Belanda
Sejak tahun 1864 Daerah Nias merupakan bagian Wilayah Residentil Tapanuli yang termasuk dalam lingkungan Government Sumatera Wesiklet. Dapat dikatakan mulai tahun 1864 itu secara efektif Pemerintahan Hindia Belanda mengatur Pemerintahan di
Nias sebagai bagian daerah wilayah Hindia Belanda pada waktu itu. Mulai tahun 1919 Residentil Tapanuli tidak lagi terdiri dari tiga afdeeling, tetapi telah menjadi empat afdeeling yang masing-masing dipimpin oleh seorang Assisten Residen, yaitu:
  1. Afdeeling Sibolga dan sekitarnya dengan Ibukota Sibolga
  2. Afdeeling Padang Sidempuan dengan Ibukota Padang Sidempuan
  3. Afdeeling Batak Landen dengan Ibukota Tarutung

 Afdeeling Nias termasuk pulau-pulau sekitarnya (kecuali Pulau-Pulau Batu) yang merupakan Afdeeling yang baru dibentuk pada tahun 1919 dengan Ibukota Pembentukan daerah Nias sebagai satu Afdeeling didasarkan pada pertimbangan antropologis, namun
demikian sebelumnya itu tidak ada pemerintahan yang meliputi keseluruhan daerah Nias yang didiami oleh Suku Nias.
Afdeeling Nias terdiri dari dua Onderafdeeling yaitu Onderafdeeling Nias Selatan dengan Ibu Kota Teluk Dalam dan Onderafdeeling Nias Utara dengan Ibu Kota Gunungsitoli yang masing-masing dipimpin oleh seorang Controleur atau Gezeghebber.


Dibawah Onderafdeeling terdapat lagi satu tingkat pemerintahan yang disebut Distrik dan Onderdistrik yang masing-masing dipimpin oleh seorang Demang dan Asisten Demang. Batas antara masing-masing wilayah tersebut tidak ditentukan secara tegas.
Onderafdeeling Nord Nias terbagi atas satu distrik, yaitu Distrik Gunungsitoli dan empat Onderdistrik, yaitu Onderdistrik Idano Gawo, Onderdistrik Hiliguigui, Onderdistrik Lahewa, dan Onderdistrik Lahagu. Onderdistrik Zuid Nias terbagi atas satu distrik, yaitu : Distrik Teluk Dalam dan dua Onderdistrik, yaitu : Onderdistrik Balaekha dan Onderdistrik Lolowau.
Pulau-Pulau Batu pada bulan Desember 1928 dimasukkan ke dalam Wilayah Afdeeling Nias yang sebelumnya termasuk dalam wilayah Residentie Sumatera Barat dengan status sebagai Onderafdeeling, sehingga sejak saat itu Afdeeling Nias terdiri dari tiga Onderafdeeling yaitu : Onderafdeeling Nord Nias, Onderafdeeling Zuid Nias dan Onderafdeeling der Batu Eilanden. . Tingkat pemerintahan yang berada dibawah Distrik dan Onderdistrik ialah Banua (Kampung) yang masing-masing dipimpin oleh seorang Salawa (di Nias Utara) dan si Ulu (di Nias Selatan), yang merupakan pemerintahan asli di Nias, yang keberadaannya itu dikokohkan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai tingkat pemerintahan yang paling bawah.
 2. Zaman Penjajahan Jepang
Pada zaman pendudukan Jepang, sebagaimana halnya di seluruh Indonesia waktu itu berdasarkan Undang-undang Nomor 1 tahun 1942 pembagian wilayah pemerintahan di Daerah Nias tidak mengalami perubahan, sama seperti pada masa pemerintahan Hindia
Belanda, kecuali Onderafdeeling dihilangkan, yang mengalami perubahan, hanya namanya saja yaitu :
  1. Afdeeling diganti dengan nama Gunsu Sibu yang dipimpin oleh seorang Setyotyo.
  2. Distrik diganti dengan nama Gun yang dipimpin oleh seorang Guntyo.
  3. Onderdistrik diganti dengan nama Fuku Gu yang dipimpin oleh seorang Fuku Guntyo.
Mengenai pengaturan pemerintahan juga didasarkan undang-undang Nomor 1 tahun 1942 yang mengatakan bahwa semua badan pemerintahan dan kekuasaannya, hukum dan undang-undang dari pemerintahan Hindia Belanda untuk sementara diakui sah asal tidak bertentangan dengan aturan Pemerintahan Militer Jepang.

3. Zaman Kemerdekaan
Pada tahun-tahun pertama zaman kemerdekaan pembagian wilayah pemerintahan di daerah Nias tidak mengalami perubahan, demikian juga struktur pemerintahan, yang berubah hanya nama wilayah dan nama pimpinannya sebagai berikut :
  1. Nias Gunsu Sibu diganti Nama Pemerintahan Nias yang dipimpin oleh Kepala Luhak.
  2. Gun diganti dengan nama Urung yang dipimpin oleh seorang Asisten Kepala Urung (Demang)
  3. Fuku Gun diganti dengan nama Urung Kecil yang dipimpin oleh Kepala Urung Kecil (Asisten Demang).
            Sesuai dengan jumlah distrik dan onderdistrik pada zaman Belanda, pembagian nama tetap berlaku pada zaman Jepang, maka pada awal kemerdekaan terdapat sembilan kecamatan. Hanya saja diantara kecamatan itu terdapat tiga kecamatan yang mengalami perubahan nama dan lokasi Ibukota yaitu :
  1. Onderdistrik Hiliguigui menjadi Kecamatan Tuhemberua dengan Ibukota Tuhemberua
  2. Onderdistrik Lahagu menjadi Kecamatan Mandrehe dengan Ibu Kota Mandrehe
  3. Onderdistrik Balaekha menjadi Kecamatan Lahusa dengan Ibu Kota Lahusa.

Pada tahun 1946 Daerah Nias berubah dari Pemerintahan Nias menjadi Kabupaten Nias dengan dipimpin oleh seorang Bupati. Pada tahun 1945 KND dihapuskan dan dibentuk suatu lembaga baru yaitu Dewan Perwakilan Rakyat. Pada tahun 1953 dibentuk tiga kecamatan yaitu :
  1. Kecamatan Gido yang wilayahnya sebagian diambil dari wilayah Kecamatan Gunungsitoli dan sebagian diambil dari kecamatan Idano Gawo, dengan Ibu Kota Lahemo.
  2. Kecamatan Gomo yang wilayahnya sebagian diambil dari wilayah Kecamatan Idano Gawo dan sebagian dari wilayah Kecamatan Lahusa, dengan Ibu Kota Gomo.
  3. Kecamatan Alasa yang wilayahnya sebagian diambil dari wilayah Kecamatan Lahewa, sebagian dari wilayah Kecamatan Tuhemberua dan sebagian dari wilayah Kecamatan Mandrehe dengan Ibu Kota Ombolata.

Pada tahun 1956 dibentuk satu kecamatan baru yaitu kecamatan Sirombu yang wilayahnya sebagian dari wilayah Kecamatan Mandrehe dan sebagian dari wilayah Kecamatan Lolowau.
Kemudian berdasarkan PP. No.35 tahun 1992 tanggal 13 Juli 1992 terbentuk dua Kecamatan baru yaitu Kecamatan Lolofitu Moi yang wilayahnya sebagian dari Kecamatan Gido dan Kecamatan Mandrehe, dan Kecamatan Hiliduho yang wilayahnya sebagian dari Kecamatan Gunungsitoli.
Berdasarkan PP. No.1 tahun 1996 tanggal 3 Januari 1996 terbentuk dua kecamatan baru yaitu :
  1. Kecamatan Amandraya yang wilayahnya sebagian dari kecamatan Teluk Dalam, kecamatan Gomo, dan kecamatan Lahusa.
  2. Kecamatan Lolomatua yang wilayahnya sebagian dari kecamatan Lolowa’u




Terakhir dengan berlakunya UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, dengan mempedomani Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2000 tentang Pedoman Pembentukan Kecamatan maka melalui Perda Kabupaten Nias No.6 tahun 2000 tanggal 24 Nopember 2000 tentang Pembentukan 5 (lima) Kecamatan di Kabupaten Nias. lima Kecamatan Pembantu yang masih tersisa selama ini akhirnya ditetapkan sebagai Kecamatan yang defenitif, masing-masing :

  1. Kecamatan Hibala yang wilayahnya berasal dari Kecamatan Pulau-Pulau Batu.
  2. Kecamatan Bawolato yang wilayahnya berasal dari Kecamatan Idanogawo
  3. Kecamatan Namohalu Esiwa, wilayahnya sebagian dari Kecamatan Alasa dan Kecamatan Tuhemberua
  4. Kecamatan Lotu yang wilayahnya sebagian dari Kecamatan Tuhemberua dan Kecamatan Lahewa
  5. Kecamatan Afulu yang wilayahnya sebagian dari Kecamatan Lahewa dan Kecamatan Alasa

Pada tahun 1956 dengan Undang-Undang No.7 tahun 1956 Kabupaten Nias ditetapkan sebagai daerah otonom yang disebut Daerah Swatantra Kabupaten Daerah Tingkat II Nias, yang dipimpin oleh Bupati Kepala Daerah. Disamping Bupati Kepala Daerah dibentuk Dewan Pemerintahan Daerah yang dipilih dari anggota DPRD. Pada tahun 1961 sampai dengan tahun 1969 Ketua DPRD langsung dirangkap oleh Bupati Kepala Daerah. Untuk membantu Bupati Kepala Daerah dalam menjalankan roda pemerintahan sehari-sehari dibentuk Badan Pemerintahan Harian yang dikatakan sebagai ganti DPD yang telah dihapuskan. Akan tetapi kemudian sejak tahun 1969 sampai dengan saat berlakunya Undang-undang No.5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah, Lembaga BPH sebagai Pembantu Kepala daerah dalam menjalankan Pemerintahan sehari-hari tidak pernah diadakan lagi.
Dapat dikatakan bahwa perubahan-perubahan pemerintahan di Kabupaten Nias,mengikuti perubahan-perubahan tentang Pemerintahan di daerah yang berlaku secara nasional.
Desa/Kelurahan sebagai tingkat pemerintahan yang paling bawah, di Kabupaten Nias terdapat sebanyak 657 buah. Desa/Kelurahan tersebut karena persekutuan masyarakat menurut hukum setempat, yang dahulunya masing-masing berdiri sendiri-sendiri tanpa ada tingkat pemerintahan yang lebih tinggi yang mencakup beberapa atau keseluruhan desa/kelurahan itu. Sejak awal kemerdekaan sampai tahun 1967 terdapat satu tingkat pemerintahan lagi diantara Kecamatan dengan Desa/kelurahan yang disebut ” Ö R I ” yang meliputi beberapa desa.
Memang ÖRI ini sejak dahulu telah ada yang dibentuk karena perserikatan beberapa desa yang menyangkut Pesta, sedang asalah-masalah pemerintahan desa langsung diatur oleh masing-masing desa. ÖRI sebagai salah satu tingkat pemerintahan di Daerah Tingkat II Nias dihapuskan pada tahun 1965 dengan surat Keputusan Gubernur pada tanggal 26 Juli 1965 Nomor : 222/V/GSU dengan tidak menyebutkan alasan-alasan yang jelas.
Selanjutnya berdasarkan keputusan DPRD Kabupaten Nias Nomor : 02/KPTS/2000 tanggal 1 Mei 2000 tentang persetujuan pemekaran Kabupaten Nias menjadi dua kabupaten, Keputusan DPRD Propinsi Sumatera Utara Nomor : 19/K/2002 tanggal 25 Agustus 2002, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 tahun 2002 tanggal 25 Februari 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Pakpak Barat, dan Kabupaten Humbang Hasundutan, dan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 29 tahun 2002 tanggal 28 Juli 2003, maka Kabupaten Nias resmi dimekarkan menjadi dua Kabupaten yaitu Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan.
Dengan demikian wilayah Kabupaten Nias yang tadinya terdiri dari 22 kecamatan, menjadi 14 kecamatan karena 8 kecamatan telah masuk ke wilayah Kabupaten Nias Selatan. Kecamatan yang masuk wilayah Kabupaten Nias sebagai berikut:
  1. Kecamatan Idanogawo
  2. Kecamatan Bawolato
  3. Kecamatan Sirombu
  4. Kecamatan Mandrehe
  5. Kecamatan Gido
  6. Kecamatan Lolofitu Moi
  7. Kecamatan Gunungsitoli
  8. Kecamatan Hiliduho
  9. Kecamatan Alasa
  10. Kecamatan Namohalu Esiwa
  11. Kecamatan Lahewa
  12. Kecamatan Afulu
  13. Kecamatan Tuhemberua
  14. Kecamatan Lotu







Kemudian sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Nias Nomor 05 Tahun 2005 tanggal 14 Desember 2005 tentang Pembentukan Kecamatan di Kabupaten Nias, Kabupaten Nias dimekarkan menjadi 32 Kecamatan, yaitu :
  1. Idanogawo
  2. Bawolato
  3. Ulugawo
  4. G i d o
  5. Ginungsitoli Idanoi
  6. Lolofitu Moi
  7. Ma’u
  8. Somolo-molo
  9. Sirombu
  10. Lahomi
  11. Mandrehe
  12. Mandrehe Barat
  13. Moro’o
  14. Mandrehe Utara
  15. Ulu Moro’o
  16. Hiliduho
  17. Hili Serangkai
  18. Botomuzoi
  19. Gunungsitoli Alo’oa
  20. Gunungsitoli
  21. Gunungsitoli Selatan
  22. Tuhemberua
  23. Lotu
  24. Sitolu Ori
  25. Gunugsitoli Utara
  26. Sawo
  27. ALasa
  28. Namohalu Esiwa
  29. Alasa Talu Muzoi
  30. Lahewa
  31. Afulu
  32. Lahewa Timur




Selanjutnya berdasarkan Peraturan Daerah kabupaten Nias Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kecamatan Tugala Oyo dan Kecamatan Gunungsitoli Barat di Kabupaten Nias, Kabupaten Nias mengalami pemekaran menjadi 34 Kecamatan dengan bertambahnya 2 Kecamatan yaitu Kecamatan Tugala Oyo dan Kecamatan Gunungsitoli Barat.
Pada tahun 2009 sesuai dengan Pasal 4 masing-masing Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2008 tentang pembentukkan Kabupaten Nias Utara, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2008 tentang pembentukkan Kabupaten Nias Barat, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2008 tentang pembentukkan Kota Gunungsitoli maka wilayah Kabupaten Nias dikurangi dengan 3 wilayah Kabupaten/Kota tersebut diatas.
Kabupaten Nias Utara terdiri atas cakupan wilayah :
  1. Kecamatan Lotu;
  2. Kecamatan Sawo;
  3. Kecamatan Tuhemberua;
  4. Kecamatan Sitolu Ori;
  5. Kecamatan Namohalu Esiwa;
  6. Kecamatan Alasa Talumuzoi;
  7. Kecamatan Alasa;
  8. Kecamatan Tugala Oyo;
  9. Kecamatan Afulu;
  10. Kecamatan Lahewa;
  11. Kecamatan Lahewa Timur
 Kabupaten Nias Barat terdiri atas cakupan wilayah :
  1. Kecamatan Lahomi;
  2. Kecamatan Sirombu;
  3. Kecamatan Mandrehe Barat;
  4. Kecamatan Moro’o;
  5. Kecamatan Mandrehe;
  6. Kecamatan Mandrehe Utara;
  7. Kecamatan Lolofitu Moi; dan
  8. Kecamatan Ulu Moro’o.
 Kota Gunungsitoli terdiri atas cakupan wilayah :
  1. Kecamatan Gunungsitoli Utara;
  2. Kecamatan Gunungsitoli Alo’oa;
  3. Kecamatan Gunungsitoli;
  4. Kecamatan Gunungsitoli Selatan;
  5. Kecamatan Gunungsitoli Barat; dan
  6. Kecamatan Gunungsitoli Idanoi.

 Maka wilayah Kabupaten Nias setelah pemekaran menjadi 9 Kecamatan, yaitu :
  1. Idanogawo
  2. Bawolato
  3. Ulugawo
  4. G i d o
  5. Ma’u
  6. Somolo-molo
  7. Hiliduho
  8. Hili Serangkai
  9. Botomuzoi
  •  
“ Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Nias Yang Berkeadilan, Sejahtera, Dan Mandiri Yang Dilayani Oleh Pemerintah Yang Bersih Dan Responsif ”




Asal-Usul Orang Nias Berasal dari Taiwan
Senin, 15 April 2013 - 23:39 wib



(Istimewa)

Jurnalis

Asal-Usul Orang Nias Berasal dari Taiwan

GUNUNGSITOLI - Penelitian terbaru mengungkap bahwa penduduk asli orang Nias berasal dari Taiwan. Ini berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan seorang ahli genetika, Manis van Houven.
Houven mengambil sampel DNA dari sekira 900 warga Nias. Hasil pemeriksaan menunjukkan ada kedekatan ke titik akurat bahwa orang Nias sangat dominan mirip dengan genetika orang Taiwan.
Sebelum penelitian ini dilakukan, muncul spekulasi bahwa asal muasal orang Nias berasal dari Eropa atau kepulauan terdekat dengan pesisir pantai barat Sumatera, seperti Kepulauan Nicobar atau Madagaskar.
Hasil penelitian Houven ini setidaknya menjawab berbagai spekulasi tentang asal usul orang Nias.
Penelitian Houven disosialisasikan melalui seminar internasional di Gunungsitoli yang dihadiri kalangan pejabat, seperti wali kota dan bupati. Ada pula para akademisi terkemuka berasal dari Kepulauan Nias. Penelitian ini dimotori Yayasan Pusaka Nias.
Ciri khas orang Nias, terutama dari kawasan Nias Utara, Nias Tengah, dan Kota Gunungsitoli, secara dominan dapat diidentifikasi dengan mudah, yakni berambut hitam, berbentuk oval, berkulit putih, dan berpostur tubuh sedang.
Hal ini berbeda sedikit dengan ciri khas orang Nias yang berasal dari Nias Selatan, terutama asal Teluk Dalam yang memiliki wajah lojong dengan rahang keras dan berpostur tubuh tinggi. Meski demikian, mereka juga berkulit putih seperti orang China namun matanya tidak sipit.
Yohanes Hammerle, pendiri Yayasan Pusaka Nias, mengatakan, orang-orang Nias awalnya berasal dari Gomo, yakni salah satu kecamatan di Kabupaten Nias Selatan, tepatnya di Sifalago-Gomo.
Hal in sejalan dengan hasil penelitian Houven, seorang peneliti spesialis DNA, yang menyebut bahwa salah satu suku bangsa besar, yakni Austronesian telah melakukan ekspansi sejak 5.000 tahun lalu. Sebagian besar suku bangsa tersebut merupakan orang Taiwan atau dahulu bernama Yunan.
Houven menjelaskan, mereka bermatapencarian sebagai petani. Selanjutnya, populasi mereka menyebar luas di seluruh Asia Tenggara, termasuk Sumatera.
Hasil penelitian DNA diketahui bahwa secara dominan orang Nias memiliki jenis golongan darah ‘O’ dan diketahui memiliki karakter yang berbeda antara orang Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, dan kabupaten atau daerah lainnya di Kepulauan Nias. Selanjutnya, dia mengategorikannya sebagai O-M110 dan O-M119.
Hal ini, lanjut Houven, memiliki korelasi terhadap jenis bahasa yang dipakai. Bahasa yang digunakan di Teluk Dalam sangat berbeda dengan bahasa yang dipakai warga di daerah Nias lainnya.
Dijelaskan pula, pengelompokan jenis karakter genetika tersebut, yakni Y-chromosome haplogroups, ditemukan bahwa genetika dengan tanda berwarna kuning di dalam lingkaran merupakan jenis karakter yang dominan di Pulau Nias. Ini berbeda dengan daerah di Teluk Dalam yang ditandai dengan warna merah.
Jenis karakter warna kuning tersebut juga menyebar di berbagai daerah di Asia Tenggara, terutama Taiwan dan Filipina. Namun, diketahui bahwa Taiwan lebih dominan setelah dilihat dari berbagai pendekatan lainnya.
Daerah Sifalago-Gomo di Nias Tengah, yang diketahui tempat awal orang Nias mulai ada, dalam penelitian ini juga diketahui bahwa sangat didominasi tanda genetika berwarna kuning. Dari sini diketahui bahwa orang Nias umumnya memiliki kemiripan dengan genetika orang Taiwan.
Houven menjelaskan, penelitian ini sudah dimulai beberapa tahun lalu sejak dia bertemu dengan Yohanes.
Dengan demikian diketahui bahwa orang-orang Nias berasal dari dua sumber yang ditandai dengan jenis O-M110 (orang Teluk Dalam, Nias Selatan) dan O-M119 (orang Nias pada umumnya).
Tokoh Nias, Budiaman Gea, mengakui bahwa selama ini persoalan asal usul orang Nias merupakan isu hangat dan kontroversial. Saat ini, seluruh peserta ataupun orang Nias yang hadir di seminar tersebut baru menyadari asal usul mereka.
Sementara itu, penelitian arkeologis, berupa benda-benda purbakala yang ditemukan di Gua Togi Ndrawa, Gunungsitoli, mengungkap gua tersebut telah dihuni oleh manusia sejak 12 ribu tahun lalu. Ini terlihat dari benda-benda purbakala yang ditemukan dan sudah dipublikasikan oleh peneliti-peneliti arkeologi.
Lantas di manakah orang-orang penghuni Gua Togi Ndrawa? Mengapa mereka menghilang? Apakah mereka punah akibat gempa atau lainnya? Ini masih menjadi misteri. Usut punya usut, seperti hasil penelitian Houven bahwa sehingga 7.000 tahun setelah adanya fakta orang gua, muncul orang Austronesian. Mereka sampai saat ini dikenal sebagai penduduk asli Nias.





  • Facebook


Medan 15 February 2015 (Hadarman Telaumbanua

Catatan: Nias Online.com 
Judul : Ya'ahowu Niha Cheda – Bawolahusa
Alamat : Asal-usul-orang-nias-hadarman.blogspot.com
Situs : http://asal-usul-orang-nias-hadarman.blogspot.com

Nama      : Hadarman Telaumbanua
NPM       : 201303061
STMIK & AMIK LOGIKA MEDAN 



Terimakasih  
+++++  Ya’ahowu Niha Cheda   +++++



Tidak ada komentar:

Posting Komentar